Hiduplah sekeluarga sederhana disebuah dusun pelosok dikaki sebuah bukit Menoreh di wilayah Yogyakarta. Sebuah keluarga dengan segala keterbatasannya, hidup dengan keadaan ekonomi yang serba pas-pasan. Kehidupan sebagai warga negara yang tak terjangkau oleh Raskin, yang sangat berbeda dari warga kampungnya lainnya. Sebuah gubuk yang sudah renta dipinggiran persawahan tepi kampung itu, menjadi harta satu-satunya untuk berteduh disaat hujan ataupun terik matahari.Kesederhanaan dan kesahajaan hidup sekeluarga itu dilaluinya dengan penuh syukur pada Sang Hyang Widi, Sang Pencipta alam semesta ini. Hidup bertani seadanya, makan seadanya dan tidak pernah mengeluh untuk terus berusaha bekerja semampu tenaganya demi menyambung hidup yang harus terjalani itu.
Keluarga itu memiliki sepasang angsa berwarna putih, yang menjadi temannya dikala malam sepi dan gelap, dimana hanya penerangan lampu pijar 5Watt sambungan bantuan tetangga dekatnya.
Hingga suatu saat "harta" yang berupa sepasang angsa itu bertelur satu demi satu, yang sungguh membuat hati sekeluarga itu bahagia! Sejumlah telur yang dibanggakan itu akhirnya dibiarkan disarangnya biar dierami sepasang angsa itu. Selalu dengan kasih sayang, setiap pagi dan sore, diberikannya pakan angsa itu dengan bekatul dan kerak nasi (sisa nasi yang dikeringkan) agar angsa itu sungguh sehat dan tidak sakit-sakitan.
Hingga saatnya telur itu menetas, kedua angsa itu sungguh memberikan kebahagian pada majikannya! 9 buah telur itu menetas semuanya! Sungguh kebahagiaan yang terberi pada keluarga miskin itu sangat nampak diwajah yang bersahaja itu.
Hari demi hari dilalui hingga satu bulan anak-anak angsa itu tumbuh menjadi besar dan menyenangkan! Namun, sayang.... keluarga itu sangat membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.... Hingga akhirnya diputuskan untuk menjual satu angsa jantannya ke sebuah pasar dikaki bukit Menoreh itu....
Tentunya kisah seperti ini menjadi hal yang wajar, namun.... mari kita renungkan lebih dalam lagi...
Angsa betina yang tersisa dengan 9 anaknya itu pasti akan sangat bersedih....
Sempat terbesit, bagaimana jika angsa betina itu juga dijual oleh sang majikan?
bagaimana dengan nasib ke-9 anak angsa itu?
Sejak semula kita lahir, kita memiliki kedua 0rangtua yang lengkap! Ada ayah dan ada ibu yang sangat menyayangi kita.
Bagaimana jika saat kita masih kecil, kita telah ditinggal ayah kita?
Belum lagi jika ibupun juga harus berpulang saat kita masih kecil?
Tentunya, kita akan tertantang untuk menjalani kehidupan keras ini dengan langkah yang seperti diajarkan oleh orang tua kita. Bahaya itu pasti akan terus mengintai kita..
Kita jangan salah langkah, jangan asal ada makanan atau hal yang enak, lantas kita mendekatinya! Kita harus waspada dan tahu bagaimana kita melangkah demi keselamatan hidup kita kan?
Kini aku bagaikan salah satu anak angsa itu... semoga anda tidak senasib denganku.
jika memang senasib, marilah saling belajar, melaju melangkah demi kehidupan kita yang layak dan pantas dibanggakan oleh siapapun! Kita masih memiliki figur cinta seorang ayah atau ibu yang sangat mencintai kita! Lihat! Tuhan sang Pencipta mencintai kita! Marilah kita bersujud dan bersyukur, agar kita kuat dan mampu melangkah menghadapi dunia ini!
Burhan Djogja
Keluarga itu memiliki sepasang angsa berwarna putih, yang menjadi temannya dikala malam sepi dan gelap, dimana hanya penerangan lampu pijar 5Watt sambungan bantuan tetangga dekatnya.
Hingga suatu saat "harta" yang berupa sepasang angsa itu bertelur satu demi satu, yang sungguh membuat hati sekeluarga itu bahagia! Sejumlah telur yang dibanggakan itu akhirnya dibiarkan disarangnya biar dierami sepasang angsa itu. Selalu dengan kasih sayang, setiap pagi dan sore, diberikannya pakan angsa itu dengan bekatul dan kerak nasi (sisa nasi yang dikeringkan) agar angsa itu sungguh sehat dan tidak sakit-sakitan.
Hingga saatnya telur itu menetas, kedua angsa itu sungguh memberikan kebahagian pada majikannya! 9 buah telur itu menetas semuanya! Sungguh kebahagiaan yang terberi pada keluarga miskin itu sangat nampak diwajah yang bersahaja itu.
Hari demi hari dilalui hingga satu bulan anak-anak angsa itu tumbuh menjadi besar dan menyenangkan! Namun, sayang.... keluarga itu sangat membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.... Hingga akhirnya diputuskan untuk menjual satu angsa jantannya ke sebuah pasar dikaki bukit Menoreh itu....
Tentunya kisah seperti ini menjadi hal yang wajar, namun.... mari kita renungkan lebih dalam lagi...
Angsa betina yang tersisa dengan 9 anaknya itu pasti akan sangat bersedih....
Sempat terbesit, bagaimana jika angsa betina itu juga dijual oleh sang majikan?
bagaimana dengan nasib ke-9 anak angsa itu?
Sejak semula kita lahir, kita memiliki kedua 0rangtua yang lengkap! Ada ayah dan ada ibu yang sangat menyayangi kita.
Bagaimana jika saat kita masih kecil, kita telah ditinggal ayah kita?
Belum lagi jika ibupun juga harus berpulang saat kita masih kecil?
Tentunya, kita akan tertantang untuk menjalani kehidupan keras ini dengan langkah yang seperti diajarkan oleh orang tua kita. Bahaya itu pasti akan terus mengintai kita..
Kita jangan salah langkah, jangan asal ada makanan atau hal yang enak, lantas kita mendekatinya! Kita harus waspada dan tahu bagaimana kita melangkah demi keselamatan hidup kita kan?
Kini aku bagaikan salah satu anak angsa itu... semoga anda tidak senasib denganku.
jika memang senasib, marilah saling belajar, melaju melangkah demi kehidupan kita yang layak dan pantas dibanggakan oleh siapapun! Kita masih memiliki figur cinta seorang ayah atau ibu yang sangat mencintai kita! Lihat! Tuhan sang Pencipta mencintai kita! Marilah kita bersujud dan bersyukur, agar kita kuat dan mampu melangkah menghadapi dunia ini!
Burhan Djogja



0 comments:
Post a Comment